FAKTA DAN REALITA CERITA



Jatuh Pada Pandangan Pertama, Apa Sebabnya?

Tadinya mau keep sendiri, tapi... Rela bagi-bagi? (iklan dulu ah, mumpung ga nerima iklan hhh)

Jujur, aku bukan chatty person atau yg suka ngobrol lewat virtual dan bahkan di dunia nyata pun masih ga begitu jadi favorit thing to do sih.

Kalau ingat kejadian-kejadian aneh tapi nyata ya banyak, terutama di dunia perkuliahan saat mulai suka ikut organisasi & ekstrakurikuler, KM (ketiga tipe ini lebih banyak disuruh/dipaksa ikut hahah), dan volunteer-an apalagi dapat cuan banyak hehe, tapi jujur bukan itu yang aku incar, yang aku incar adalah 'Dia'.

Ya! Dia.

The cool type yang harus disamperin dulu, kalau sudah bersama dengannya tidak pernah ada rasa kesepian, menyuguhkan banyak informasi, dan membuat perasaan tidak pernah pudar kayak lagu Rossa. Siapa lagi kalau bukan 'ilmu' si jendela dunia dan 'jaringan sosial' jumping spiders hehe.


Labelling dari Orang Lain yang Ga Penting

"Ih si dia jutek tau. Ibu ini bawel banget. Bapak itu galak dan rese orangnya. Om itu sinis banget. Kaka itu maunya perfect dan pelit, judes lagi. Dia kaya banget, kayaknya ga bakal mau deh temenan sama gue".

Hadeuh, kata-kata yang pasti pernah kalian dengar dari mana-mana. Kata-kata yang terakhir sih, pengalaman dari ucapanku. 😅Tapi ga nyangka banget, teman-temanku itu humble dan sopan. Inilah bukti pendidikan is paramount karena mengajarkan etika, etiket, empati, dan sopan santun, istilahnya character building sejak kecil ya kan. Makanya kok aku obses banget ya sama Preambule UUD 45 Alinea 4;

...Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan *untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa* dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial... 

Setiap dengar atau baca ini tuh berasa paskibra lagi yang dari SD sampai SMA lagi-lagi disuruh untuk menjadi petugas upacara, sampai hafal dulu dari Janji Siswa, Proklamasi dan UUD 1945 nya, sekarang lupa-lupa ingat kayak lagunya Kuburan 😄

Serta Pasal 31 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi; 

“Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya."

Kecantol di hati ga tuh? Malah kepikiran sih. Iya juga dari SD aku mencoba jadi siswa berprestasi demi mendapat hadiah 'beasiswa' untuk mengurangi beban APBR (Anggaran Pendapatan Buat Rumah) hahah. Dari mana asal muasal pemikiran itu ya? Padahal masih bau kencur saat itu. Jadi ingat di kelas 3 atau 4 SD, ternyata aku sudah belajar jadi yang namanya entrepreneur (jualan kue buatan emak yang sebenernya emak khawatir dagangannya remuk karena anaknya kecil bawa plastik segede gaban. Aku dapat untung buat jajan, itu yang penting, karena aku punya strategi dan aku ga cerita ke mamake 😂). Karena ini juga, aku sempat dibully (istilah-istilah yang aku sadar saat kuliah). Bukan sama cewek-cewek, tapi cowok-cowok yang rese kayak kresek itu, eh maap mulut. Yang paling aku ingat adalah ucapan, 'Dia jelek, kurus, item, idup lagi', weh mau gimana lagi, aku ikut paskibra choyy! Di jemur tengah hari bolong. Dulu mana ada aku ngerti apa tuh sunscreen/sunblock atau per-body lotionan, ga mau beli juga meski dikasih tau pas SMA karena menurutku muahal, mending kumpulin buat beli buku atau jajan cemilan, hehe. Tapi, ada satu hal yang buat aku pasang badan dihadapan satu cowok cupu itu, ketika ia menghina bapakku yang dulu kalau kerja naik sepeda dari rumah sekitar 20 km, pulang pergi 40 km 😵. Ih kezel kalo ingat, tapi sudah ku maafkan lah, biarlah berlalu. Padahal kenapa ya mesti malu gitu? Aku malah kalo pas dulu kerja dekat tempat bapakku suka panggil 'Bapak~' eh tapi beliau suka ga menghiraukan gitu. Pas sampe rumah akunya yang nangis karena ga dianggap sama bapak. Katanya sih rame jadi ga keliatan hahah. Maklum pake sepeda ga bisa buat bonceng aku, bisanya boncengin brankas kuda. 😅

Oke, back to the people who are labeled yang katanya first impression mereka negatif, terus jadi ikut-ikutan deh mindset kita karena menilai & mendengar watak si orang ini dari bisikkan syaiton, eh maksudnya orang lain, maap maap, aku mah begitu just a mundane person

Walau mungkin bisa aja sih memang ada yang sifatnya demikian adanya, tapi ga semua benar ya, jadi coba deh jangan menilai dari kacamata orang lain, buktikan dulu; cover both side kalau istilah jurnalis-nya. Setidaknya kenal dahulu seperti pepatah zaman baheula 'tak kenal maka tak sayang', et dah alay bener lu Dew (pake nadanya Mandra). Percayalah, aku sudah membuktikannya. Ini beda ya dengan yang disebut 'menjilat' atau 'bersilat lidah', these are big NO deals for me. Mending jilatin es krim apalagi gelato/nitro yg bikin gigi merinding atau ikut silat beksi dari Bekasi buat latihan matahin besi lumayan bisa angkut jalur LRT, ups.


Pengalaman Kuliah Jadi Guide Dunia Nyata

Pengalaman-pengalaman itu semua mengingatkanku, pada: Jurusan yang ku ambil terpaksa sebab jurusan yang aku mau ga bisa dibuka (maklum kunci serepnya di Pacifista) baru dimunculin setelah 3D2Y karena mabanya sudah banyak yang minat dan kuat jumlahnya, ugh...

Mau mengulang, beasiswa ilang, duh malang 🤧

Dosen favorite gambar akan isi matkul mulmed & design, tanpa cari informasi lain, langsung sign in🤣 #zamanabalabil, tolong jangan dicontoh, pikirkan matang-matang ya bukan separo matang. 

Holly molly! kuliah ini benar-benar memaksaku tuk keluar dari (ari)zona, perut Laboon. Bertemu bapak-bapak teori, dosen-dosen killer (satunya pendiri acara pergossipan Indonesia, salahkan beliau karena banyak konten bergunjiang saat itu di televisi kita dan memang rating yang dicari, tapi sumpah dosen ini killer abis kayak orcha, si paus pembunuh itu. Sampai-sampai waktu beliau dulu kuliah karena thesis-nya tidak rampung-rampung, beliau bawalah 'gun' dengan berisi peluru untuk menembak dospemnya, tapi untungnya sang dospem sabar dan tidak tahu mahasiswanya ganas. Baru beliau cerita setelah lulus tentang rencananya menembak sang dosen, dan sang dosen pun sontak kaget berkeringat 🤣), interaksi dengan bahasanya komputer dan database serta buat design perangkat (berasa anak IT) ditambah ada materi video games (praktik buat games dan story telling), mendekatkan diri dengan dosen seputih salju half-blood vampire dengan style Prof. Severus Snape di Harry Potter (maap yak pak, tapi kata teman-teman jurusan bapak begitu, dan kita percaya itu sungguh lol. Aku yang murid selundupanpun kau bisa tahu padahal diantara dosen-dosen lain yang aku susupi tidak peduli dengan kehadiran anak ini).😄 

Kuliah ini juga buat aku belajar kpol (Komunikasi Politik) tentang the art of lying atau kata bekennya 'retorika', bahkan ada sks belajar copy right and patent, bayangin meriset detil mulai dari games Pong hingga film Chaplin dan Marline Monroe, paten penemu lampu bohlam yang kita pake 😵 eits ga salah, polemik seperti ini ada juga dan banyak kita temmui di luar sana, meski ga sebanyak di Indonesia sekarang.

Kalau matkul yang lainnya ada komunikasi antarbudaya, soskom & filkom, jurnalistik, yang sebelum berkenalan, ku sudah lebih dahulu menjauhkan diri dari peradaban manusia, malah ditantang matang-matang untuk berperang. Mengingatkanku juga pada komunikasi iterpersonal, organisasi hingga skala internasional yang diajarkan Bapak teori, begitu pun julukan beliau. Gimana aku ga frustrasi, semua belajar tentang orang, gaada tuh memahami diri sendiri #curhat.

Pembelajaran Markom dan PR dari bunda, awalnya menakutkan juga karena harus presentasi terus di depan kelas, ikut kegiatan kampanye perusahaan-perusahaan, buat acara-acara dengan mengajukan sponsorship. Duh, semua aja dibilang susah. Ini lah penambahan materi yang menambah wawasan bahwa komunikasi peletakkan, penyampaian dan penerimaannya berbeda-beda. Antara perusahaan dan dengan klien tidaklah sama. Ketika berbicara dengan seseorang yang mengeluarkan nada tinggi, ya jangan membalas dengan tinggi juga, ketinggian nanti jatoh lecet. 😂 (Sayangnya ga diajarin bagaimana cara komunikasi yang tepat dengan anak-anak & remaja wkwks, tapi ku dapat lewat pengalaman sih, syukurlah).


Istilah Itu Berbeda, tapi Banyak dari Kita Menjeneralisasikannya

Lain halnya lagi dengan psikologi komunikasi yang ilmunya juga masih sedikit nyantol karena perbedaan arti seperti, hypnotized, hypnotherapy, jew, jewish, psikolog, dokter jiwa dan peramal, begitu juga beberapa istilah sains dan kepribadian dalam Bahasa Inggris yang buat kita keliru atau menggunakan termnya sama, padahal engga.

That is the cause, I would rather be considered “an introverted person” than “an introvert.

From what I read in Sophia if I'm not mistaken, “An introvert” is a thing, practically an object. It is a checklist of fixed traits and behaviors.

However, we each are introverted in our own ways, to our own degrees, within the complicated context of our own personalities. "Introverted" allows us to think in degrees--you can be very introverted or just a little introverted. Not so with being "an introvert." Every person has a label (be introverted, ambivert, or extroverted) just the percentage of each label is dominant one another.

When realize, “Ah, like other introverted people, I have limited energy for socializing,” that doesn't prescribe how I will or should behave. Ini kayak part considering how you want to expend it. Can do volunteer, blow-out, or hoop-de-doo parties. Before I found myself, I thought introverts hated karaoke hhh. Think, nobody will revoke your introvert card. It's like 'You are introverted and you like parties, that's cool.

In another case, kalo ga berkepentingan berasa malas ngomong, tapi universe sering menjadi magnet yang berkebalikan buatku. Orang-orang itu curhat padaku, entah kenapa telingaku menjadi para pendengar yang baik, 😅 ya jadi tahu sih problematika tiap orang beda-beda. Jadi ga berasa masalahku yang terberat dan ga seudzon lagi sama yang di atas. Bersyukur aja deh hihi. Mungkin ini pula lah yang buat aku jadi banyak bekicot kalo cerita, pas sadar udah ngomong banyak, malu sendiri hahah.

Last but not least, setiap pembelajaran, setiap pertemuan, setiap permulaan, entah dengan ilmu dan belajar atau dengan orang yang baru kita kenal (acquaintance) cobalah 'keep in touch'. Meskipun ga selalu di touch-touch, seperti screen hp kita, itu penting karena suatu saat nanti entah dia atau kita bersimbiosis kembali, kata bunda. 

Well, I might be introverted, but I am not an introvert. I am who I am.

Comments