"CLICKBAIT" Si Judul Penggoda


"CLICKBAIT" Si Judul Penggoda

https://www.nativeadvertising.com/the-true-cost-of-clickbait/
Clickbait diartikan sebagai konten di internet (media online) yang memiliki tujuan utama untuk menarik perhatian dan mendorong pengunjung agar mengklik sebuah link halaman situs tertentu (The Oxford English Dictionary). Modus media online untuk meningkatkan traffic, pengunjung, atau page views dengan menggunakan judul berita yang menjebak (clickbait). Ciri khas judul berita berupa clickbait menggunakan kata "inilah" atau "ini dia" dan menyembunyikan fakta atau isi berita di bagian judul. Berusaha membuat pembaca penasaran sehingga mengklik tautan judul berita tersebut adalah tujuan utama dari clickbait. Judul berita clickbait yang umumnya menjebak merupakan gaya jurnalistik masa kini (online) atau digital journalism/cyber journalism akibat persaingan ketat di internet.
Josh Bentin dari Harvard’s Neiman Journalism Lab mengartikan clickbait sebagai sesuatu yang ia tidak suka yang berada di internet, “things I don't like on the Internet”. Clickbait biasanya digunakan untuk berita yang tidak menarik, basi, bukan merupakan hal baru, dan isi beritanya biasa-biasa saja, bahkan tidak ada info baru dalam berita tersebut. Clickbait merupakan polusi di internet, khususnya media sosial. Clickbait merusak masa depan jurnalistik karena memanipulasi bahkan menipu pembaca yang hendak mengetahui beritanya. Jurnalistik yang baik menyampaikan informasi, bukan meminta pembaca untuk mengklik link judul berita. Clickbait menjadikan jurnalisme sebagai tricking people into pushing buttons (pengelabuan pembaca (user) ketika menekan tombol button). Clickbait adalah persuasif headlines dan judul iklan. Kejadian bertahun-tahun yang lalu sekalipun dapat menjadi berita (info baru) jika diubah menjadi clickbait.
Contoh-contoh berita media online berupa clickbait, yaitu:
Ditetapkan Jadi Tersangka Pembangunan Stadion, YAS Berkomentar Begini (Tribun Jabar)
Jadi Tersangka Korupsi Stadion Gede Bage, Ini Komentar Sekretaris Dinas (Kompas)
Ridwan Kamil Copot Pejabat Ini karena Tersangkut Korupsi (Harian Aceh)
Ini Setumpuk Izin yang Dilanggar PT Summarecon (Inilah Koran)
Dituding Buruk Layani Pasien BPJS, Ini Jawaban RS Imanuel Lampung (Kompas).
Nilay Patel dari Verge dalam wawancara dengan Poynter menjelaskan, kebanyakan clickbait mengecewakan karena menjanjikan nilai yang tidak sesuai dengan gambaran pembaca. Dengan kata lain, clickbait merupakan judul berita yang memberi harapan atau informasi palsu. Pada era surat kabar, judul-judul berita koran, langka sekali ada yang berupa kata seru atau kalimat tanya. Wartawan pada awalnya patuh pada ilmu jurnalistik yang memberi kabar kepada pembaca sejak di koran tabloid, latest issue pada poster iklan. Saat ini, pada era media online (era internet) terkesan terjadi degradasi di dunia jurnalistik Indonesia. Wartawan terkesan menulis berita seenaknya, sekenanya, dan cenderung mengamalkan konsep “jurnalisme kuning” (yellow journalism) yang mengedepankan judul sensasional, serta suka menampilkan pemberitaan seks dan kriminalitas. Kaidah atau prinsip penulisan berita yang baik dalam jurnalistik, terkesan diabaikan.
Dengan judul-judul eye-catching bagi pembaca seperti contoh di atas, media/wartawan berusaha memberikan “umpan” agar link judul beritanya diklik pembaca. Isi berita yang tidak seheboh yang digambarkan oleh judul kerap kali menjadi clickbait. Di era bisnis media online saat ini, traffic, jumlah pengunjung, atau page views situs web adalah segalanya. Klik sama dengan trafik sama dengan uang bagi media online. Sumber utama media-media online adalah Google adsense (iklan Google). Media mendapatkan komisi dari Google jika ada pengunjung yang mengklik iklan. Clickbait menjadi salah satu andalan media online untuk menaikkan jumlah pengunjung. Bahkan, clickbait cenderung menjadi trending di kalangan media online yang pada akhirnya jadi disebut “clickbait journalism”. Clickbait journalism juga merupakan dampak negatif media sosial bagi jurnalistik. Wartawan atau media yang “pragmatis-oportunis” mengikuti tren status update di media sosial dalam menulis judul berita, tidak berpegang pada standar jurnalistik yang baik.
Penulis Yahoo.com, David Pogue, menyebut clickbait sebagai “judul penggoda” (teaser headlines) untuk menaikkan pengunjung website. Clickbait tentu saja merupakan sebuah skema untuk menaikkan komersial website. Hal ini merupakan perputaran modern pada laporan jurnalisme, tulisnya dalam sebuah posting di laman Yahoo, “What’s Behind Clickbait”. Umumnya, clickbait cenderung merupakan penipuan terhadap pembaca atau tidak sesuai dengan harapan dan imajinasi mereka. Pogue menyatakan, clickbait bukan jurnalistik yang baik. Menurutnya, headline atau judul berita yang baik itu transparan dan efisien, bukan menyembunyikan substansi berita demi mengejar trafik. “Sangat sering pembaca hanya membuang-buang waktu mengeklik tautan judul demikian. Headline berupa clickbait adalah promosi yang tidak tahu malu (shameless hype),” tulisnya. “Even at their best, clickbait headlines are shameless hype.”
Vox Acting Managing Editor, Nilay Patel menyatakan bahwa banyak clickbait yang mengecewakan karena kesepakatan dari nilai-nilai berita tidak bertemu dan isinya pun tidak sebagus yang dibayangkan oleh pembaca (Poynter.org). Clickbait sebagai jebakan klik juga disebut sebagai bentuk terendah jurnalisme media sosial.
clickbait is the lowest form of social media journalism, full of sensationalized headlines, grumpy cats, and awful personal confessions (A History of Clickbait).
Rachel Parker dari Resonance Content, dalam posting “Just Say No to Click Bait” menggambarkan clickbait sebagai umpan pancing dan ikan. Wartawan digambarkan memancing ikan dan sang ikan tidak lain adalah pembaca. Parker menyebut clickbait sebagai trik murahan untuk klik dan itulah sebabnya pembaca harus mengatakan tidak pada clickbait (Cheap Tricks for Clicks: Why You Should “Just Say No” to Click Bait). Maka, untuk meredamnya, kita harus memerangi jurnalisme clickbait, pembaca bukanlah sesuatu objek untuk dipancing, melainkan audiens pembaca yang memerlukan informasi. Kalangan media dan praktisi marketing juga harus diingatkan bahwa clickbait itu berbahaya bagi brand, judul umpan klik itu berbahaya bagi citra lembaga.
Umumnya kita menulis mengenai online artikel yang melenceng dari isinya. Lebih tepatnya artikel sensasional dan bahkan headlines sensasional yang menjamur di popularitas online. Keuangan pada dunia berita tidak terpisahkan dari tren ini, dengan sebagian isi yang tidak sesuai, headline bombastis yang mendebarkan dan membuat penasaran. Banyak situs yang mempromosikan artikel-artikel ini yang menjadikannya sebagai satu taktik yang tidak termaafkan atau ilegal. Indeed, one site, upworthy.com (yang merupakan spesialisasi penulisan headline clickbait, seperti The Recovery Is Over! Stock Market Is Up! Life Is Great! Wait, What?) menulis dan mengetes clickbait setidaknya pada 25 headline berita per artikel dan mereka membuat kata-kata untuk menjaring pandangan pembaca pada headline driven sites.  Konten share clickbait pada situs upworthy and buzzfeed.com lebih banyak dibandingkan artikel dari outlet berita tradisionalnya, seperti The New York Times, CNN and The Wall Street Journal.
Selain pada situs portal berita online, clickbait juga muncul di media sosial Facebook. Clickbait muncul ketika link yang di-share pada post Facebook memiliki judul yang memicu rasa penasaran, namun tidak benar-benar memberitahukan pembaca mengenai isi artikel tersebut, dan bukan merupakan suatu hal yang pasti. Link clickbait bekerja sangat baik dalam memancing pembaca karena orang-orang tidak mengira bahwa mereka hanya mengklik untuk find out more. Berkat itulah mereka ditaruh berlebihan pada news feeds di Facebook.

Referensi:
Belt, Donald M. & Brian J. Koble(2014). Click-Bait and the Financial Media. Pittsburgh: Hefren-Tillotson.
Clickbait is not Journalism, 2014
http://www.amyporterfield.com/38. Should You Use Clickbait to Increase Engagement on Facebook?
www.mediataitokoulu.fi. Did You Take The Clickbait: Media Literacy Week


Comments