“Aku lebih tahu segala hal dibandingkan diri
mu”
Pernahkah terpikirkan oleh mu kalau sebait kata
tersebut dikatakan oleh seorang anak berusia 6 tahun? Ya, seorang anak
perempuan yang kini tengah duduk di kelas satu SD, Dera. Ungkapan tersebut,
sering ia lontarkan di hadapan adik laki-laki nya, Firo.
Tiba-tiba saja, terdengar suara tangis sang adik
yang memekakkan telinga. Dera yang sedari tadi asyik berdua dengan bukunya,
kini tak lagi menemukan ketenangan. Dera menghampiri adiknya yang kini sedang
memeluk ibunya sambil berlinangan air mata. Sambil mendekap buku di tangannya,
Dera berkata, “Firo, kamu cengeng sekali. Suara kamu sudah menghentikan kakak
yang sedang baca tadi.”
Firo yang menangis tersedu memandang kakaknya,
melihat raut wajah tegas sang kakak. Firo berhenti menangis, sang ibu pun
mengelus kedua kepala anak kesayangannya dan mengecupkan sayang di kening
mereka berdua.” Dera pun melanjutkan membaca bukunya yang ia abaikan sesaat
tadi. Firo mulai mengikuti Dera dan bertanya-tanya kepada nya. Dera merasa
sedikit terganggu dengan tingkah penasaran adiknya, ia pun mengambilkan buku
lain dan menyuruh sang adik duduk membaca. “Kamu baca yang ini saja, kakak yang
ini. Meskipun begitu, Firo ingin tahu apa yang kakak nya baca. Merasa
penasaran, Firo menutup bukunya dan menghampiri sang kakak yang sedari tadi
melukiskan raut wajah berbeda yang membuat Firo terus memandangi wajah sang
kakak dibanding membaca bukunya. “Kakak, kenapa wajah kakak seperti itu? Apakah
ada sesuatu di buku itu?” tanya sang adik. Dera tak menghiraukan dan tetap
asyik membaca hingga terusik ketika sang adik melihat lebih dekat buku yang
Dera baca. “Oke, karena kakak sudah tahu buku ini, kakak bisa jelasin kok
semuanya ke Firo. Dera pun memulai cerita yang ia tangkap dari buku, terkadang
ia lupa dan salah dalam menyebut nama, tempat atau lupa detil peristiwa, namun
ia tetap melanjutkan ceritanya di depan sang adik. Dera pun sering memamerkan
hal-hal yang ia tahu lebih dulu dibandingkan Firo.
Ada kalanya juga, Dera tak ingin diganggu sang
adik. Bahkan, Dera dapat mengurung diri di kamarnya dan membaca buku tersebut
hingga selesai. Begitulah cara ia melalui sikap penasaran dan bawel dari
adiknya.
Setiap hari, sang adik selalu ikut kemana pun
Dera pergi dan selalu ingin melakukan hal yang sama dengan kakaknya. suatu
hari, Dera dan teman-temannya sedang bermain di taman. Dera mengajak sang adik
karena dimintai tolong oleh sang ibu. Teman-teman Dera sangat antusias dan
ingin memainkan permainan petak umpet. Setelah melakukan siapa yang akan
berjaga dan bersembunyi, permainan pun dimulai.
Dera sangat menikmati bermain petak umpet karena
berpikir, pasti ia akan sulit ditemukan. Namun, satu yang jadi masalah, ‘Sang
adik’ yang selalu mengikutinya. Sesaat, setelah Dera menemukan tempat
persembunyian, ia berkata kepada adiknya, “Kamu jangan ikut kakak, nanti
ketahuan. Sana… sana..” ujar Dera yang membuat Firo memandangi kakaknya
sejenak, kemudian ia pun menangis dan pergi sambil berlari meninggalkan Dera.
Berhasil membuat adiknya pergi, Dera pun kembali bersembunyi dan benar saja ia
menjadi orang terakhir yang sulit ditemukan oleh teman-temannya.
Setelah puas bermain, Dera dan teman-teman
pulang ke rumah masing-masing. Di rumah, ibu dan ayah sudah menanti kepulangan
Dera dan Firo untuk makan sore.
“Dera, ayo cuci tanganmu dan jangan lupa ajak
Firo.” Ujar ibu di dapur yang sedang sibuk menyiapkan makan bersama ayah. Dera
terhenti sejenak, berpikir mengapa harus mengajak Firo yang sedari tadi sudah
di rumah untuk membersihkan tangannya. Dera penasaran, ia langsung meluncur ke
kamar mandi untuk membersihkan kaki dan tangannya, setelah itu ia bergegas ke
kamar Firo.
“Firo! Firo! Ibu menyuruhmu membersihkan
tanganmu, apakah kamu habis bermain cat air milik ku lagi, tadi?” ujarnya.
Namun, tak ada sedikit pun suara Firo yang terdengar oleh Dera. Ia mencari ke sana
ke mari, Firo tak juga ia temukan. Dera berlari ke luar, “Ibu, ayah… di mana
Firo, aku tidak menemukannya.”
Tiba-tiba saja ibu dan ayah kaget. “lho,
bukannya main sama kamu tadi, kak?” tanya ayah. Dera kaget dan raut wajahnya
berubah murung kaku. Ia teringat akan hal buruk yang telah ia lakukan saat di
taman bermain tadi kepada adiknya. Tanpa pamit, ia berlari keluar. Di sepanjang
jalan, ia terus menggumam betapa cengengnya Firo dan mengapa ia selalu menuruti
apa kata dirinya. Lalu, apa yang bisa ia lakukan tanpa dirinya.
Di sudut taman bermain, terlihat seorang anak
kecil yang menangis dan sedang ditertawakan oleh beberapa anak lainnya. Dera
pun dapat menerka bahwa itu adalah sang adik, Firo. Ia menghampiri kelompok
anak-anak yang sedang menertawakan adiknya, memasang raut wajah galaknya. “Hei!
kenapa kalian mengganggu anak itu? Dia hanya sendiri dan kalian ber-enam. Dasar
anak nakal, pergi sana.”
Keenam anak itu tidak menggubris apa kata Dera,
malahan mereka ingin mendorong Dera, namun Firo yang melihatnya berusaha
menahan si anak bertubuh paling besar yang ingin mendorong kakaknya. karena
tubuh Firo yang terlalu mungil, ia terdorong jatuh ke tanah dan membuat
lututnya terluka, Firo menangis lagi. Kali ini, luka di kaki Firo membuat
keenam anak yang mengejeknya ketakutan dan lari.
Kaget melihat betapa berani dan sayangnya sang
adik saat menolong Dera dari keenam anak jahil, tangisan Firo membuat Dera ikut
menangis. “Kenapa kamu tidak pulang saja saat aku memarahimu tadi?” tanyanya
dengan nada menderu. Firo menghentikan tangis sejenak dan menjawab, “Karena
kakak tahu semuanya, jadi pasti kakak tahu di mana Firo, pasti cari Firo.”
Dera pun mengelus luka di kaki Firo, menangis
dan menggendong Firo di punggungnya. Tangisan sang kakak membuat Firo kembali
menangis dan melontarkan kalimat yang membuat Dera memegang erat adik yang ia
gendong di punggungnya itu.
“Firo sayang kakak.”
---

Comments
Post a Comment