SERANGGA CINTA [BAGIAN 4] END

SERANGGA CINTA

Sabtu sore, Grace meneleponku dan mengajakku untuk datang ke rumahnya karena ini hari ulang tahun kakaknya. Aku pun bergegas dan pergi ke rumahnya. Hanya ada aku, Grace dan kak Gilang yang merayakan hari bahagia milik kak Gilang. “Terima kasih untuk adikku dan temannya yang sudah meluangkan waktu dan menyiapkan semuanya,” kata kak Gilang. Kami bertiga pun bersenang-senang hingga malam. Ketika Grace dan kak Gilang sedang sibuk berfoto, aku terpana melihat pemandangan malam itu, saat itu sinar rembulan memantulkan cahayanya di kolam taman belakang milik Grace, aku pun melangkahkan kaki ke luar dan mataku tertuju ke arah semak tempat taman serangga berada, membayangkan apa yang terjadi di sana kala malam. Aku menikmati hembusan angin malam yang merayap di tubuhku, tak lama kemudian, kak Gilang menghampiriku. “Tanya, ada yang aku ingin bicarakan,” ucapnya. “Ada apa, kak?” Tanyaku heran.

“Aku suka sama Tanya sejak pertama ketemu kamu, ujar kak Gilang. Saat itu, aku tak tahu harus menjawab apa, aku gugup. Angin yang semula ku rasakan menenangkan setiap nadiku menjadi sebaliknya. “Ma… maaf, aku ga bisa,” tiba-tiba kata itulah yang keluar dari mulutku. “Begitu kah. Hhh.. jadi aku ditolak.” Aku melihat sedikit kekecewaan di wajahnya, namun ia tetap tersenyum. Tiba-tiba Grace memanggil, “Hey, apa yang kalian lakukan di sini tanpa mengajakku?”

“Ti… tidak ada. Grace, aku ingin pulang karena ini sudah malam. Maaf karena mengacaukan acara kak Gilang hari ini.”

“Aah, ia. Aku yang seharusnya minta maaf. Kak Gilang, tolong anter Tanya ke rumah ya?” Ucapnya. Aku ingin berkata tidak, namun tak ada kata yang terucap. Aku hanya mengangguk dan tidak berkata apa-apa. Sesampainya di depan rumahku, Kak Gilang meminta maaf padaku, namun aku tak berani menatap wajahnya dan kembali hanya mengangguk.

            Dua minggu berlalu sejak kejadian di rumah Grace. Aku masih tidak bisa bertemu dengan kak Gilang. Grace yang selalu mengajakku ke rumahnya untuk bermain merasa heran dengan sikapku yang selalu menolak belakangan ini. Hingga kamis pagi, Grace datang ke rumahku. “Tanya, aku udah tau kenapa kamu ga mau lagi dateng ke rumahku. Itu karena kak Gilang kan? Aku denger semua dari ceritanya bahwa kamu udah menolaknya.” Ucap Grace. Aku tahu cepat atau lambat Grace akan tahu dan jika hari ini tiba, aku sudah siap jika Grace akan membenciku, namun dugaanku salah, Grace tidak marah atau membenciku. ia bilang ini semua adalah keputusanku dan ia tidak berhak mencampurinya. Saat itu, Grace juga memberi tahu bahwa besok adalah hari terakhir kak Gilang di sini. Ia harus kembali melanjutkan studinya di UK. “Aku harap kamu menemuinya. Tapi aku tidak akan memaksamu. Kalau begitu, aku pamit pulang ya.”

            Malam itu, aku tidak bisa memejamkan mataku. Apa yang disampaikan oleh Grace pagi ini membuat perasaanku gelisah, apa yang harus aku lakukan? Saat itu aku sudah menolak ka Gilang. Aku juga tidak tahu harus bilang apa. Paginya, aku memutuskan untuk tidak menemui kak Gilang. Namun, hatiku masih tidak merasa tenang. Hingga malam tiba, pikiranku dipenuhi dengan semua kenanganku tentang kak Gilang. Aku pun langsung berlari menuju rumah Grace. Setiba di sana, Grace sedang menyiapkan mobil. “Tanya? Apa yang kamu lakukan malam begini?” tanya Grace. Aku tidak menghiraukan perkataanya. Saat ini aku benar-benar ingin bertemu dengan kak Gilang. “Kak Gilang... ia… kapan ia berangkat?” ujarku dengan nafas tersengal.

“Harusnya 1 jam lagi dia berangkat, tapi saat ini aku ga tahu dia ada di mana. Kau ingin bertemu dengannya kan? Aku akan bantu mencarainya.” Grace pun membantuku mencari kak Gilang. Grace menghubungi ponsel milik kak Gilang, namun tak juga diangkat. Aku dan Grace mencari ke sekeliling, tapi tak juga diketemukan. Hingga aku ingat mengenai taman serangga di halaman belakang milik Grace. “Grace, boleh aku ke taman belakangmu?”

“Ia, aku cari ke toko di depan gang ya.” Ucap Grace sambil berlari. Aku pun mencarinya di kebun serangga. Dan benar, ia ada di sana. berdiri didekat kolam kecil. Aku menghampirinya. Saat aku berjalan ke arah kolam kecil, aku melihat seekor serangga kecil yang berkilau ketika terkena cahaya. “Serangga cinta? Kenapa dia ada di sini?" Ucap kak Gilang.

"Serangga cinta. Aku terkejut mendengar julukan aneh dari serangga itu.

"Iya, kau ingat serangga yang ku ceritakan waktu pertama kali ku ajak ke sini?

Oh, aku mengingatnya. Serangga yang diceritakan oleh kak Gilang waktu itu dan kini ku lihat wujudnya. Aku penasaran dan kembali bertanya apa ada serangga itu? Benarkah nama itu adalah julukan untuknya?

“Kamu harus percaya, itu lah serangga yang ku maksud. Kalau tersengat racunnya, maka akan merasakan perasaan yang aneh".

“Aku ga percaya.”

"Kenapa, kau tidak percaya?"

Aku pun menghampirinya. Mencoba meraihnya dengan kedua tanganku. Saat hampir menggapainya, serangga itu menyengatku. Aku seolah-olah merasa terhuyung. Ketika aku hampir terjatuh, samar-samar ku lihat kak Gilang mencoba menahan tubuhku. Aku juga melihat samar serangga tadi kembali menyengat telunjuk kiri kak Gilang. Hanya sebentar, aku pun kembali melihat wajah kak Gilang yang berada tepat di hadapanku dengan jelas. Wajahku seperti terbakar, begitu pula wajah kak Gilang yang memerah. Apakah yang ku rasakan kepada kak Gilang adalah perasaan cinta? Aku memang tidak ingin kehilangannya. Mungkin benar, serangga cinta telah menyadarkanku akan perasaan ini.

Aku ingat serangga ini, serangga yang pertamakali kulihat di pinggir danau saat aku tersesat. Ia juga menyengatku dan Grace sehingga membuatku bersama Grace saling mengenal dan menjadi sahabat sampai saat ini. Serangga itu pula yang sekarang ini mempertemukanku dengan orang di hadapanku. Serangga cinta, julukan itu pantas untukmu. Serangga yang aku tak tahu keberadaannya, serangga yang hanya muncul ketika dua orang ditakdirkan bersama. Serangga itulah yang sudah mempertemukanku dengan sahabatku dan cintaku.

 

The end



Comments