SERANGGA CINTA
Sabtu sore, Grace
meneleponku dan mengajakku untuk datang ke rumahnya karena ini hari ulang tahun
kakaknya. Aku pun bergegas dan pergi ke rumahnya. Hanya ada aku, Grace dan kak
Gilang yang merayakan hari bahagia milik kak Gilang. “Terima kasih untuk adikku
dan temannya yang sudah meluangkan waktu dan menyiapkan semuanya,” kata kak
Gilang. Kami bertiga pun bersenang-senang hingga malam. Ketika Grace dan kak
Gilang sedang sibuk berfoto, aku terpana melihat pemandangan malam itu, saat
itu sinar rembulan memantulkan cahayanya di kolam taman belakang milik Grace,
aku pun melangkahkan kaki ke luar dan mataku tertuju ke arah semak tempat taman
serangga berada, membayangkan apa yang terjadi di sana kala malam. Aku menikmati
hembusan angin malam yang merayap di tubuhku, tak lama kemudian, kak Gilang
menghampiriku. “Tanya, ada yang aku ingin bicarakan,” ucapnya. “Ada apa, kak?”
Tanyaku heran.
“Aku suka sama Tanya sejak pertama ketemu kamu, ujar kak Gilang.
Saat itu, aku tak tahu harus menjawab apa, aku gugup. Angin yang semula ku
rasakan menenangkan setiap nadiku menjadi sebaliknya. “Ma… maaf, aku ga bisa,”
tiba-tiba kata itulah yang keluar dari mulutku. “Begitu kah. Hhh.. jadi aku
ditolak.” Aku melihat sedikit kekecewaan di wajahnya, namun ia tetap tersenyum.
Tiba-tiba Grace memanggil, “Hey, apa yang kalian lakukan di sini tanpa
mengajakku?”
“Ti… tidak ada. Grace,
aku ingin pulang karena ini sudah malam. Maaf karena mengacaukan acara kak
Gilang hari ini.”
“Aah, ia. Aku yang
seharusnya minta maaf. Kak Gilang, tolong anter Tanya ke rumah ya?” Ucapnya.
Aku ingin berkata tidak, namun tak ada kata yang terucap. Aku hanya mengangguk
dan tidak berkata apa-apa. Sesampainya di depan rumahku, Kak Gilang meminta maaf
padaku, namun aku tak berani menatap wajahnya dan kembali hanya mengangguk.
Dua
minggu berlalu sejak kejadian di rumah Grace. Aku masih tidak bisa bertemu
dengan kak Gilang. Grace yang selalu mengajakku ke rumahnya untuk bermain
merasa heran dengan sikapku yang selalu menolak belakangan ini. Hingga kamis
pagi, Grace datang ke rumahku. “Tanya, aku udah tau kenapa kamu ga mau lagi
dateng ke rumahku. Itu karena kak Gilang kan? Aku denger semua dari ceritanya
bahwa kamu udah menolaknya.” Ucap Grace. Aku tahu cepat atau lambat Grace akan
tahu dan jika hari ini tiba, aku sudah siap jika Grace akan membenciku, namun
dugaanku salah, Grace tidak marah atau membenciku. ia bilang ini semua adalah
keputusanku dan ia tidak berhak mencampurinya. Saat itu, Grace juga memberi
tahu bahwa besok adalah hari terakhir kak Gilang di sini. Ia harus kembali
melanjutkan studinya di UK. “Aku harap kamu menemuinya. Tapi aku tidak akan
memaksamu. Kalau begitu, aku pamit pulang ya.”
Malam
itu, aku tidak bisa memejamkan mataku. Apa yang disampaikan oleh Grace pagi ini
membuat perasaanku gelisah, apa yang harus aku lakukan? Saat itu aku sudah
menolak ka Gilang. Aku juga tidak tahu harus bilang apa. Paginya, aku
memutuskan untuk tidak menemui kak Gilang. Namun, hatiku masih tidak merasa
tenang. Hingga malam tiba, pikiranku dipenuhi dengan semua kenanganku tentang
kak Gilang. Aku pun langsung berlari menuju rumah Grace. Setiba di sana, Grace
sedang menyiapkan mobil. “Tanya? Apa yang kamu lakukan malam begini?” tanya Grace.
Aku tidak menghiraukan perkataanya. Saat ini aku benar-benar ingin bertemu
dengan kak Gilang. “Kak Gilang... ia… kapan ia berangkat?” ujarku dengan nafas
tersengal.
“Harusnya 1 jam lagi dia
berangkat, tapi saat ini aku ga tahu dia ada di mana. Kau ingin bertemu
dengannya kan? Aku akan bantu mencarainya.” Grace pun membantuku mencari kak
Gilang. Grace menghubungi ponsel milik kak Gilang, namun tak juga diangkat. Aku
dan Grace mencari ke sekeliling, tapi tak juga diketemukan. Hingga aku ingat
mengenai taman serangga di halaman belakang milik Grace. “Grace, boleh aku ke
taman belakangmu?”
“Ia, aku cari ke toko di
depan gang ya.” Ucap Grace sambil berlari. Aku pun mencarinya di kebun
serangga. Dan benar, ia ada di sana. berdiri didekat kolam kecil. Aku menghampirinya.
Saat aku berjalan ke arah kolam kecil, aku melihat seekor serangga kecil yang
berkilau ketika terkena cahaya. “Serangga cinta? Kenapa dia ada di sini?"
Ucap kak Gilang.
"Serangga cinta. Aku terkejut mendengar julukan aneh dari
serangga itu.
"Iya, kau ingat serangga yang ku ceritakan waktu pertama kali
ku ajak ke sini?
Oh, aku mengingatnya. Serangga yang diceritakan oleh kak Gilang
waktu itu dan kini ku lihat wujudnya. Aku penasaran dan kembali bertanya apa
ada serangga itu? Benarkah nama itu adalah julukan untuknya?
“Kamu harus percaya, itu lah serangga yang ku maksud. Kalau
tersengat racunnya, maka akan merasakan perasaan yang aneh".
“Aku ga percaya.”
"Kenapa, kau tidak percaya?"
Aku pun menghampirinya. Mencoba meraihnya dengan kedua tanganku.
Saat hampir menggapainya, serangga itu menyengatku. Aku seolah-olah merasa
terhuyung. Ketika aku hampir terjatuh, samar-samar ku lihat kak Gilang mencoba
menahan tubuhku. Aku juga melihat samar serangga tadi kembali menyengat
telunjuk kiri kak Gilang. Hanya sebentar, aku pun kembali melihat wajah kak
Gilang yang berada tepat di hadapanku dengan jelas. Wajahku seperti terbakar,
begitu pula wajah kak Gilang yang memerah. Apakah yang ku rasakan kepada kak
Gilang adalah perasaan cinta? Aku memang tidak ingin kehilangannya. Mungkin
benar, serangga cinta telah menyadarkanku akan perasaan ini.
Aku ingat serangga ini, serangga yang pertamakali kulihat di
pinggir danau saat aku tersesat. Ia juga menyengatku dan Grace sehingga
membuatku bersama Grace saling mengenal dan menjadi sahabat sampai saat ini.
Serangga itu pula yang sekarang ini mempertemukanku dengan orang di hadapanku.
Serangga cinta, julukan itu pantas untukmu. Serangga yang aku tak tahu
keberadaannya, serangga yang hanya muncul ketika dua orang ditakdirkan bersama.
Serangga itulah yang sudah mempertemukanku dengan sahabatku dan cintaku.
The end

Comments
Post a Comment