SCENE 1. INT – RUANG TAMU – SORE
Seorang
L/P tampak duduk merebahkan tubuhnya di sofa. Menarik napas panjang.
L/P
“Ah!
Badanku serasa mau copot!”
L/P
itu menggulingkan kepalanya ke kiri dan kanan.
Melihat
cermin tergeletak di sofa. Lalu mengambilnya.
L/P
“Cermin?
Yang biasa dipakai kakak waktu itu.
Tapi
kenapa ada di sini?
“Baru
kali ini aku memegangnya. Cermin yang bagus”
(Memandangi
wajahnya di cermin)”
L/P
Hoaam!!
Kok aku mengantuk?
(Tertidur)
SCENE 2. KAMAR – GELAP
L/P
itu perlahan membuka matanya.
L/P
“Gelap?
Mati Lampu?”
Melihat
kanan-kiri, namun tak ada yang bisa ia lihat di kegelapan. Tanpa disadari,
tubuhnya gemetar. Ia, L/P yang takut akan gelap.
L/P
“Tolong!
Tolong! Nyalakan lampu. Saya takut gelap!
Saya
takut sendirian! Tolong!
Cahaya,
saya butuh cahaya! Saya butuh terang!
Tolong
…….. Cahaya! Cahaya!”
Ia
pun berjalan perlahan-lahan. Mencari sakelar lampu, namun tak diketemukan.
Akhirnya, ia meringkuk di samping sofa, KETAKUTAN. Pucat pasi.
L/P
“Ya
Tuhan! Kenapa hal ini terjadi padaku.
Tolong!
Nyalakan lampu. Tolong…….. Cahaya! Cahaya!”
CUT TO
SCENE 3. RUANG TAMU – MALAM
Terdengar
samar-samar suara yang memanggil namanya.
Ia
membuka matanya dan terlihat samar-samar seseorang di depan.
KAKAK
“Dek!
Bangun, sore-sore jangan tidur.
Kamu
lihat cermin kakak tidak?”
“L/P”
(Masih
membenahi napasnya yang tak beraturan)
“Kakak?
Ummm… Cermin? Tadi ada di sini, aku pegang.”
Tetap
duduk dan mencari ke sofa
L/P
“Loh,
tidak ada?”
Tersadar
dan melihat kakak di depannya, lalu pingsan

Comments
Post a Comment