SERANGGA CINTA [BAGIAN 2]

SERANGGA CINTA


         Aku hanya perlu memakan waktu 20 menit berjalan kaki untuk sampai ke rumah Grace yang tidak begitu jauh dari rumahku. Di perjalanan, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya dan juga laba-laba kecil. Setiba di rumah Grace, aku langsung membuka pagar rumahnya. Bukannya aku tidak sopan, tapi Grace pernah memberi tahuku untuk membuka sendiri gerbang rumahnya karena jika aku ingin main, Grace sudah memberitahukan terlebih dulu satpam dan bibi yang menjaga rumahnya untuk membuka gerbang depan sehingga aku tidak perlu berteriak-teriak memanggilnya. Tiba di pintu depan, aku langsung mengucap salam. "Permisi, selamat sore,” seruku sambil menekan bel pintu rumah Grace.

"Ia tunggu sebentar!” ujar suara seorang laki-laki di dalam dan membukakan pintu untukku. Lelaki tinggi dengan mata cokelat dan rambut hitamnya itu terkejut ketika melihatku, seperti melihat setan saja. Aku bertanya kepadanya untuk memastikan bahwa Grace ada di rumah. Laki-laki itu pun menoleh ke belakang dan memanggil Grace. Kemudian laki-laki itu pun melirik ke arah ku lagi sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan merasa malu jika aku memergokinya. Tiba-tiba Grace muncul dari belakang. "Eh Tanya, udah dateng? Oh iya kenalin, ini kakak ku, Gilang. Beda setahun sama kita, mungkin kamu kaget ya kalo baru pertama kali liat kak Gilang, emang dia baru dateng dari UK. Dia baru kuliah semester satu di sana, lagi libur musim panas katanya. Katanya sih kangen sama rumah, padahal dia kangen kali sama aku, ha..ha..” Grace usil, namun kak Gilang hanya tersenyum. Tanpa banyak bicara, Grace langsung menarik lenganku dan mengajakku untuk pergi kehalaman belakang rumahnya.

Setiba di pekarangan belakang rumahnya, aku terkejut dengan pemandangan taman hijau luas milik Grace. Ini ke lima kalinya aku datang ke rumah Grace, tapi aku belum pernah main ke kebun belakangnya. “Tan, Tanya. Sini deh,” Grace memanggilku sambil melambaikan tangannya. Aku pun menghampirinya. "Wah... lucunya.” Ujarku ketika melihat segerombolan anak laba-laba berwarna transparan.

"Eh tapi ibunya di mana ya, terus ini kok pada numpuk gini ya?" Grace bingung mencari induk laba-laba itu sambil memperhatikan gerak-gerik anak-anak laba-laba. Aku pun ikut memerhatikannya sambil berpikir sejenak. “Stegodyphus!” kata-kata itu sontak keluar dari mulutku. Grace kaget, “Apaan tuh? Mantera ya?”

Aku tersenyum dan berkata, “Bukan, Grace. Stegodyphus itu jenis laba-laba ini. Induknya mencari makanan untuk anak-anaknya setelah menetas. Sebagian besar makanan yang ia makan dimuntahkan kembali buat jadi santapan bernutrisi untuk anak-anaknya. Setelah satu bulan, induk laba-laba akan berbaring terlentang. Tujuannya supaya anak-anak laba-laba bisa memanjat tubuhnya lalu membunuh dan menjadikan dirinya sebagai makanan.”

"Eh, yang bener! Anaknya kanibal banget nggak tau terima kasih kalau udah dilahirkan ke dunia, kan kasihan ibunya udah berkorban." Grace pun mengerutkan dahinya, sedangkan aku hanya tersenyum memandangi wajah Grace yang terlihat lucu ketika sedang marah. Tiba-tiba ka Gilang memanggil Grace, ia bertanya kepada Grace apakah ia sudah membuatkan minum untukku. Lalu, Grace berkata padaku kalau ia ingin membuatkan minum. Grace pun berlari dan meminta kak Gilang untuk menemaniku di kebun. Kak Gilang menghampiriku dan bertanya padaku mengenai kesukaanku terhadap serangga. Ku kira ia akan menganggapku aneh, makanya aku hanya menjawabnya dengan kata-kata normal bahwa aku memang suka serangga tanpa ada alasan kenapa aku menyukainya. Namun, aku terkejut ketika mendengar balasan kak Gilang yang menyatakan bahwa dirinya juga menyukai serangga. Kak Gilang juga mengutarakan alasan ia datang ke sini karena ia rindu dengan serangga-serangga kecil miliknya dan ia tidak memungkiri kalau ia juga rindu dengan adik kecilnya yang manja. Saat itu, aku berpikir bahwa Grace mengidolakan kakaknya, karena itulah ia suka serangga. Tapi aku tidak mengerti kenapa Grace tidak pernah bercerita tentang kakaknya dan tentang hobi Grace yang sama dengan kakaknya. Aku pun bertanya pada kak Gilang. Ia dengan senang hati mengungkapkannya.

“Aku yang ga pernah cerita sama dia karena sewaktu masih kecil dia pernah trauma dengan serangga. Kau tahu, laba-laba jenis Meksiko Redleg yang tidak menyengat dan kamu berikan kepadanya. Sewaktu kecil, Grace pernah membunuhnya secara tidak sengaja dengan menginjaknya. Ia merasa bersalah karena membunuh, ia pun takut dengan cairan lengket yang keluar dari laba-laba itu. Setelah kejadian itu, Grace demam selama 3 hari dan merasa takut ketika membayangkan ada laba-laba di dekatnya. Aku saja terkejut ketika ia bisa menerima laba-laba pemberianmu itu.” Papar kak Gilang. Aku hanya menjawab bahwa aku mengerti apa yang sudah dialami Grace. Ka Gilang membalasnya dengan tersenyum dan meyakinkan bahwa akulah yang membuat Grace lebih berani terhadap serangga saat ini. Aku menatapnya ragu, namun ka Gilang mencoba memecah suasana. “Hmm… kamu mau lihat taman kecil serangga milikku?” Kak Gilang bertanya sambil memegangi tengkuknya.

"Eh, taman serangga? Sebenarnya aku mau sih ka, tapi sebaiknya kita tunggu Grace dulu." Jawabku, tapi ketika aku melihat wajah kak Gilang yang terkejut, aku jadi merasa tidak enak. Sontak, aku langsung bertanya padanya kenapa kak Gilang seperti itu. Kak Gilang menerangkan bahwa taman itulah yang membuat Grace trauma. Aku terkejut dan langsung meminta maaf. Karena merasa bersalah seolah memaksaku untuk ikut, kak Gilang terdiam. “Aku mau lihat!” Hanya itu kata yang keluar dari mulutku. Akhirnya aku tidak bisa menolaknya dan aku pun pergi ke tempat itu bersama ka Gilang. Setelah agak jauh kami berjalan, ka Gilang berhenti di depan sebuah semak belukar dan berkata, "Nah, kita sudah sampai di taman kecil seranggaku." Aku heran mengapa di situ hanya ada semak belukar yang teramat lebat tetapi tidak satupun serangga kutemui. "Kak, kita harus liat serangganya pakai apa?" Tanyaku.

Ka Gilang tertawa, ia hanya berusaha mengibaskan semak-semak itu "Ayo masuk," ajaknya. Aku pun perlahan masuk ke dalam semak belukar itu dan sesampainya di dalam, tubuhku terasa kaku, “I...ini indah sekali, ini bukan taman kecil serangga, tapi istana serangga". Mataku tak henti-henti memandang keindahan itu, sungguh menakjubkan. Serangga-serangga yang berwarna-warni, serta setting tempat yang memesona. Saat itu, kak Gilang menyatakan sesuatu yang aku tidak mengerti. Ia menanyakan padaku apakah aku percaya bahwa ada serangga yang keberadaannya tidak kita ketahui dan hanya datang ketika sesuatu seperti ikatan kasih sayang memanggilnya. Aku bingung dan bertanya-tanya apakah ada hal aneh seperti itu. Tiba-tiba terdengar suara Grace yang memanggil dari kejauhan. Aku dan ka Gilang terkejut. Aku dan ka Gilang pun bergegas keluar dari tempat itu. Sebelum tiba di pintu keluar, kak Gilang menyuruhku untuk tidak memberitahukan tempat ini kepada Grace. Aku pun mengiyakannya. Ketika kami tiba di halaman belakang tempat yang kami tinggalkan tadi, Grace berlari ke arah ku. Ia mengeluh karena sudah membuatkan minum, tapi harus mencari aku dan kak Gilang. Ketika Grace bertanya ke mana aku dan kak Gilang pergi, untung saja kak Gilang cepat menjawab sehingga aku tak perlu menjawabnya. Mendengar penjelasan kakaknya, Grace langsung percaya. “Oh, gitu. Jadi gimana Tan? Bagus kan kebunnya?” Grace tersenyum padaku. “Emm, aku suka. Sangat indah.” Aku mengangguk dan tersipu malu.

“Minum dulu yuk, haus nih.” Sambung kak Gilang.
Sore itu pun aku, Grace dan kak Gilang bersenang-senang sambil mengobrol tentang serangga dan menikmati pemandangan kebun yang hijau. Angin sore yang berhembus seolah menemani dan ikut menyemangati kebersamaan hari ini.

***

Comments