SERANGGA CINTA [BAGIAN 3]

SERANGGA CINTA

           Akhir-akhir minggu ini, aku selalu datang ke rumah Grace dan bertemu kak Gilang. Kami selalu membahas hal-hal yang berkaitan dengan serangga. Aku pun banyak tahu dari kak Gilang tentang serangga. Ilmu yang ku dapat bertambah dan kami bertiga pun menjadi akrab. Namun, kali ini Grace yang datang ke rumahku untuk mengerjakan tugas penelitian kelompok. Tema utama pelajaran biologi ini tentang klasifikasi hewan insecta dan topik penelitian yang kami ambil tentang arthropoda dengan infraclass pterygota atau serangga bersayap. Saat aku sedang fokus menulis laporan, tiba-tiba saja Grace bertanya mengenai hal di luar topik penelitian. Grace berkata kalau ia sangat senang ketika melihatku dekat dengan kak Gilang. Ia berkata bahwa ini merupakan pertama kalinya ia bisa menerima ada seorang cewek yang dekat dengan kakaknya. Aku tidak menanggapi obrolan yang dibuka oleh Grace. Namun, ia terus membicarakannya. Aku tidak bisa marah karenanya, malahan ia memancingku untuk berbicara hingga aku tidak bisa lagi menahan tawa. Grace keheranan mengapa aku tertawa. “Loh kok ketawa Tan? Apa yang lucu?”

 

“Udah-udah, aku bukan tipenya. Lagi pula kak Gilang udah punya pacar di UK.” Aku kembali berkutat dengan laporanku yang sedikit lagi selesai. “Yang bener?” Grace kaget. Tiba-tiba saja terdengar suara berdeham dari arah pintu. Aku dan Grace terkejut. Ternyata itu adalah Kak Gilang. Grace penasaran kenapa kak Gilang bisa masuk. Ia langsung menanyakannya. Kak Gilang menjelaskan bahwa ia masuk atas izin mamaku. Ia sudah mengetuk pintu berkali-kali, namun tak ada jawaban. Mamaku pun langsung menyuruh kak Gilang membukanya. Belum lama menjawab, Grace memotong pembicaraan kak Gilang. “Eh kak, tadi denger ya pembicaraan kita?” Ia pun langsung menempel di pundak kak Gilang sambil mengguncang-guncangkan tubuh kak Gilang seraya menghujaninya banyak pertanyaan, “Kakak belum ada yang punya kan? Belum kan? Yang dibilang Tanya tadi ga bener kan? Ia kan?”

 

“Hm.” Ucap ka Gilang. Tak tahu mengapa, aku sedikit lega. Saat aku bertatapan dengan kak Gilang, aku tersipu malu, kak Gilang pun memalingkan wajahnya dari pandanganku. “Cepat kerjain tugasmu. Kalau sudah selesai, ayo pulang sudah malam. Kakak tunggu di depan ya.” Kata kak Gilang seraya meninggalkan kami berdua. Grace berbisik padaku dan berkata bahwa wajahku dan wajah kak Gilang sama-sama memerah. Dia bilang, kami tersipu malu. Hari ini rasanya aku ingin meledak-ledak karena malu.

 

*** 

To be continue...

Comments